"No More Hoax", Ayo Terapkan dari Diri Sendiri

Saturday, 1 June 2019

"No More Hoax", Ayo Terapkan dari Diri Sendiri


Halo semuanya, apa kabar di Bulan Ramadan ini? Apakah aktivitas berlangsung seperti biasa? Bagi yang menjalankan ibadah puasa, tetap semangat yah! Kalau aku sekarang, alhamdulillah mengisi waktu sebagai ibu rumah tangga dan content creator hehe.
Pastinya membuat aku selalu browsing berita terbaru di internet. Nah, apakah semua berita di internet benar dan valid?
Hoax itu ada di mana-mana, bahkan bisa jadi kita berpikir itu adalah info yang akurat, padahal itu merugikan. Jadi "No More Hoax" ya, kalau gak percaya, baca cerita ini yuk 🙏

Kisah Bu Mawar dan Tas Sosialita

Alkisah sebuah perkumpulan arisan ibu-ibu  yang berkumpul sambil membicarakan gosip artis terbaru. Tetapi karena bulan Ramadan, mereka memutuskan mengurangi ghibah karena katanya dosa. Seorang ibu, panggil saja namanya Mawar, memutuskan iseng browsing internet tentang berita teranyar di jagat maya. Oh, ternyata sosialita Indonesia lagi suka tas bulu-bulu pink, harganya tujuh juta rupiah. Sambil browsing terus, dia mengetahui ada varian warna lain seperti biru muda, kuning, dan putih.
Merk tas itu sebut saja "Syhantik Sekaliy", kita singkat saja tas SS yah biar gampang mengetiknya. Bu Mawar pun berhitung dalam hati, hmm sepertinya THR suamiku cukup, dan saya masih ada tabungan lain. Angka tujuh juta mulai berputar di kepalanya. Walaupun angka yang besar, tetapi kalau bisa jadi sosialita kenapa enggak?
Bu Anggrek, Bu Dahlia, dan Bu Kenanga melihat dengan penasaran mengapa Bu Mawar asyik sekali melihat handphone dan tidak ikut berkomentar mengenai pembicaraan seru mereka. Ghibah sudah dimulai, walaupun mereka berjanji mengurangi, ternyata masih muncul sedikit-sedikit. Biasanya Bu Mawar paling semangat, kenapa ini membisu. Pasti ada yang tidak beres, pikir mereka bertiga.
"Jeng Mawar, ada apa toh kok diem saja. Ini gosip si artis nganu lagi hot-hotnya loh. Kamu gak penasaran gitu lanjutan ceritanya?" kaya Bu Anggrek.
Bu Kenanga ikut nimbrung, "Iya, ini Jeng Dahlia tuan rumah arisan kita lho sampe kamu cuekin dari tadi, memang lagi asyik baca gosip siapa sih jeng?"
Bu Mawar tersadar kaget, sambil senyum sumringah menunjukkan handphone-nya ke arah ibu-ibu.
"Ini lho jeng cantik, tas SS kok cantik banget yaa. Katanya sosialita pada punya. Aku naksir tas bulu-bulu kuning ini. Kok cantik banget ya? Cuma harganya lho, waduh mahal juga yah."
Ibu-ibu arisan lain mulai ribut. Terdengar suara-suara antusia.
"Iya nih emang bagus tasnya." 
"Wah kita kan sosialita harus pun ya juga nih."
"Oh itu kan yang Jeng Dahlia punya warna pink-nya."
Kalimat terakhir membuat Bu Mawar kaget.
"Lho Jeng Dahlia sudah punya toh?" kata Bu Mawar.
Bu Dahlia dengan jumawa ke kamarnya untuk mengambil bungkusan dan mengeluarkan isinya di depan peserta arisan.
"Ini dia tas SS limited edition warna pink, harga sepuluh juta. Kalau warna lain karena tidak limited, harganya cuma tujuh juta," tuturnya sombong.
Ibu-ibu yang lain semakin ribut bisik-bisik dengan kagum, sepertinya mau membeli juga.
Bu Mawar lalu memutuskan harus membeli tas bulu-bulu kuning merk SS, walaupun bukan limited edition, seharga tujuh juta rupiah. Segera, menggunakan handphone-nya, order melalui online shop itu. Sebagian THR suaminya ludes sebelum berpikir panjang,  hanya untuk tas sosialita, yang bahkan namanya belum pernah dia dengar sebelumnya
Seminggu kemudian, barang sudah sampai ke rumahnya, baru saja dikirim dari ekspedisi. Tak sabar melihat tas bulu kuning yang diimpikannya. Tetapi apa yang terjadi? Barangnya tidak sebagus itu. Banyak bulu yang rontok. Dia mulai bingung, apa benar tas ini semahal tujuh juta rupiah?
Tidak lama kemudian, anak gadisnya yaitu Harum, menghampirinya. Dia sudah berkuliah dan selebgram lokal di kampusnya.
"Ini tas apa mama? Kok jelek banget?"
"Tas SS nak, itu loh yang dipakai sosialita, masa kamu gak tau sih katanya anak gaul."
"Hah SS singkatan "Syhantik Sekaliy"? Setauku dia gak ngeluarin tas mama. Dia kan cuma jualan sepatu."
"Masa sih? Teman mama juga beli warna pink, lebih mahal lagi, mama lihat sendiri."
"Mama sempat megang barangnya gak? Atau cuma lihat doang? Pasti gak sadar kalau bahannya jelek kaya gini kan, bulunya masa rontok sih tas jutaan ckckckck."
Bu Mawar lemas, sepertinya barang yang dia beli palsu, mana harganya mahal sekali.
"Nih mama, aku baru browsing tentang tas SS. Memang banyak kasus penipuan mengatasnamakan merk ini. Banyak korbannya, karena SS cuma menjual sepatu dan bukan tas. Intinya barang yang mama beli palsu, entah siapa produsennya. Coba lihat mama beli di mana sih".
Harum langsung melihat web tempat ibunya membeli tas SS.
"Yah mama, ini website abal-abal gini dipercaya. Makanya kroscek dulu ma. Ini sih ibu-ibu arisan korban hoax semua."

Kenapa bisa ada Hoax? Bagaimana cara memeranginya?

Semakin majunya teknologi, maka semakin rentan berita Hoax di mana-mana. Mari kita tonton video ini yah 😁
Jadi, memang untuk memberantas berita palsu tidak mudah. Setidaknya dimulai dengan tidak ikut menyebarkannya. Untuk kerugiannya bermacam-macam. Bisa saja dalam bentuk material seperti contoh di atas 😭
Nah, makanya kalau dapat berita, kroscek dulu ya. Apalagi isu sensitif yang dapat memicu perpecahan. Jadi, mari terapkan "No More Hoax" 😎
Terima kasih banyak telah membaca blog ini. Jangan lupa sampaikan komentarmu ya. Apakah kalian ada yang telah menjadi korban hoax, atau jangan-jangan malah mantan pelaku penyebar hoax hihi.

18 comments :

  1. Sebelum kita menyebarkan berita, sebaiknya pikir dulu. Saring before sharing, ehehe...

    ReplyDelete
  2. gampang banget yaaa org skr termakan ama hoax. yg pinter sekalipun, banyaaak yg kemakan issue hoax :(. Kdg sampe heran, ini mereka yg suka nyebarin hoax, sbnrnya mikir terlebih dahulu ga sih sebelum menyebarkannya, ato krn kebencian udh membabi buta, sampe ga peduli itu berita hoax ato bukan yaaa .. sedih aku ngeliat yg begini :(. apalagi kebanyakan orang2 yg aku kenal

    ReplyDelete
  3. Jangan sampai deh kita ikut2an menyebarkan hoax bikin gaduh banyak orang..

    ReplyDelete
  4. Sebenarnya...aku juga suka bingung sama berita jaman sekarang.
    Tapi, aku lebih memilih jalan untuk tidak mau ikut menyebarkan.
    Jadi,
    kalau ada informasi...lebih baik biar #BerhentiDiAku
    wkwkwk....ghibahnya sama suami atau kakak laki-lakiku aja...
    Mereka lebih netral dan bisa mengendalikan diri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sedih gak siih...kalau berita yang kita sebar itu menyakiti orang lain atau membuat orang lain gelisah...

      Ini deh yang aku pikirin sebelum menyebar berita yang semudah menjentikkan jari.

      Delete
  5. Yes. No hoax. Kalau ak better membatasi diri unt denger berita yg gak penting. N disimpen aja sendiri sampe faktanya terungkap.

    ReplyDelete
  6. Miris memang dengan kondisi sekarang, terkait hoax itu sendiri yg harus diyakini adalah dari penguasa itulah mirisnya meskipun ad kesalahan dr penguasa namun tetap meyakini itu kebenaran, miris

    ReplyDelete
  7. Hoax ini memang menyebalkan. Sifat yg pengen keliatan lebih tahu padahal dapat org inilah yg bikin orang gak saring dulu info yg dia terima. Pengen cepat2 kasih ke orang aja

    ReplyDelete
  8. Nah. Semangat saring before sharing ini yg kudu ditularkan k banyak orang yaaakk supaya no more hoax
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
  9. betul, kita mulai dari diri sendiri. kadang tapa sadar kita dah share sesuatu yang belum jelas kebenarannya

    ReplyDelete
  10. Membaca berita dengan seksama, kemudian cari tahu lewat kanal-kanal resminya untuk cek kebenarannya. Jika sudah terkonfirmasi, baru dibagikan untuk informasi penting kepada orang-orang yang membutuhkan. Jika dirasa ganjil,cukup lah tahan berhenti di kita.

    ReplyDelete
  11. Bekerja di dunia sosmed harus pjntar2 baca berita. Hushhh husshhh hoax.

    ReplyDelete
  12. Emang kita benar-benar harus pintar-pintar dalam memilih informasi yang akan kita baca maupun yang akan kita Share ke orang lain

    ReplyDelete
  13. emang bikin rusuh "hoax" nih, apalah emak-emak yang baru pakai hape gampang kemakan juga

    ReplyDelete
  14. Jangan percaya sebelum ada bukti, ya itu mungkin bisa diterapkan di diri sendiri, dan jangan juga memfaktakan sebuah asumsi yang tidak ada buktinya. Start from ourself.

    ReplyDelete
  15. Kalau danger atau baca berita hoax langkah awalnya brhenti dijari Kita,, andai semua orang kyk gitu gk bakalan nyebar krmana2 ya kak

    ReplyDelete
  16. Setuju sangat aku dengan judul tulisan ini. Sebagai blogger atau siapapun memfilter informasi itu harus. Btw mataku yang siwer apanya tulisan blog ini memang kurang terang ya xixixi...

    ReplyDelete
  17. Asli kak memang nggak mudah banget ini soal hoax
    aku juga sebal kadang, yang tak bilangin ga percaya
    semoga kita jadi evangelist yang bisa memfilter berita hoax ya kak

    ReplyDelete

Popular Posts